Kalau kemarin itu dokter nggak mengijinkan saya keluar dari rumah sakit, seriously saya mau ngabur. 5 hari di rumah sakit cukup membuat saya meraih puncak emosi pada diri sendiri. Ketidakmampuan mengontrol body, saya rasa adalah salah satu ketidakenakan yang harus diterima. Siapa juga yang pengen trombosit merosot dan pusing yang meyiksa mendera terus-menerus. Nggak ada tombol yang bisa ditekan untuk menghentikannya.
Tapi [melayu banget], saya jadi berkesempatan untuk menghela nafas sejenak dan melihat sekeliling. Setelah travelling 2 minggu waktu itu, saya cuman istirahat satu hari dan langsung didera pekerjaan dan kebetulan divisi saya bebannya sedang meningkat ketika saya baru saja bergabung. Sekarang saya baru dapat space, merapikan lagi folder-folder di komputer, menamai ulang file-file foto yang berantakan sambil dengerin musik santai plus teh hangat di tempat tidur. Hmmm, luxury.
Saya memang sudah lama tidak sakit berat jadi kemarin ini ketemu lagi dengan dokter, suster yang waktu kuliah dulu lumayan langganan saya temui. Saya sebagai si anak pembosan selalu, tercenung dengan ketahanan kerja para suster dengan aktivitas kerja yang sangat rutin berhari-hari bertahun-tahun. Salute. Plus di rumah sakit kemarin saya juga semakin sadar bahwa life partner saya, yang saya juga belum tau sampai sekarang apakah dia jodoh saya atau bukan, memiliki kesabaran luar biasa. Bersedia direngeki, direweli plus nyuapin, mandiin dan nemenin tidur meski dengan posisi ajaib dan masih harus ngantor juga. Walau saya tahu dia belum tentu happy melakukannya, kalau happy berarti saya hidup di negeri dongeng. But it's more than enough. Hmmm, what could I ask for moreā¦
marry him... sudah. berkali-kali. :-) tapi secara logika itu pun belum bisa menjamin apakah dia jodoh saya atau bukan kan. (tips=baca artikel2 relationship di NG luar, dijamin lebih logis dan tercerahkan).