Been away from office routines for almost a year, I find it hard to readjust. Di hari ke dua, saya ketiduran di meja kerja, for at least 3 minute kesadaran saya hilang dari muka meja. Apalagi udara Jakarta lagi bersahabat dengan sleepy head seperti saya. Hari itu to be honest saya cuci muka 4 kali aja. Belum lagi badan harus adaptasi dengan tuntutan untuk duduk berjam-jam dan melototin layar komputer. Oh iya, apalagi sekarang ini tempat kerja saya masuknya jam 8, pulang officially jam 4 dan hari sabtu masuk setengah hari. Pingsan dulu. Ngapain sabtu masuk? Olahraga. Officially dead.
Kerjaannya sih saya suka banget. Merestruktur logika bertutur. Fasilitas kantor lumayan unik. Ada gym dengan alat yang lumayan mutakhir, klinik dan obat gratis, perpustakaan berkoleksi buku bahasa Inggris, dari Asterix sampai TIMES, makan siang disediakan dan gajian 2 minggu sekali, kayak di luar negeri aja. Duit 100ribu di dompet, seminggu aja nggak habis. Woohoo.
Tapi jenis pekerjaan saya untuk sebagian orang diperlukan keheningan karena tuntutan konsentrasi tinggi. Sementara saya lebih suka kerja dalam suasana gaduh, dalam arti yang sebenarnya. Seperti masing-masing komputer menyalakan musiknya masing-masing (didikkan kantor lama). Small things kayak gini ternyata matters. Keheningan ini, memaksa saya yang masuk jam 8, dan pada pukul 8.15 sudah mengirim sms send to many, yang isinya: “aku bosaaaaaaaaaann, mau freelance aja- ikon nangis 4x”, ke beberapa teman yang taruhan durasi ketahanan saya beraktualisasi diri dengan pilihan seperti ini.
Dan oh ya, saya tidak pernah berkantor dengan aturan berpakaian. Lagian kan artificial banget, ngapain juga diatur. Pembunuhan karakter etc. Tapi oh well toh saya nurut juga. Sedikit lebih rapi ternyata lucu juga. Tapi oh tapi setelah probation nanti ada aturan seragam yang harus dipatuhi. Oh rasanya saya mau masa probation-nya diulang terus aja setiap kali berakhir. Seragam? I know some of you are vomiting over this matter.
You always find your way, kata seseorang pada saya. Betul juga, dalam situasi apa pun saya tetap bisa membuat diri saya nyaman. Bener banget. Berkat latihan bertahun-tahun dengan tempaan alam. Di minggu ketiga I feel almost (almost)fine. Mungkin juga karena this is not my first job and I’ve been through things before I stepped on here. I know what I want, I know what I’m doing. Dan the best thing adalah saya sudah lumayan lihai memilah otak saya, I don’t want my job ruins my life. Semua ada porsinya. End of story.